Iklan Sponsor

Iklan

Iklan Sponsor

Iklan

terkini

A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian Histories

arung sejarah
, 22:57 WIB Last Updated 2023-06-10T16:04:50Z

ARUNGSEJARAH.COM - A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian Histories.

 

“Tuhan telah membuat bumi dan laut, dan telah membagi bumi di antara manusia dan menjadikan laut umum untuk semua”.

PERNYATAAN di atas merupakan kalimat yang biasa diungkapkan para penguasa Kerajaan Kembar Gowa-Tallo terhadap adanya keinginan Verenigde OostIndische Compagnie (VOC, Perusahaan Hindia Timur Belanda) yang selalu ingin menguasai rempah-rempah di Maluku. VOC menuntut agar akses non-Belanda ke rempah-rempah Maluku dihentikan.

Heather Sutherland menyebutkan narasi sejarah standar biasanya berisi gambar-gambar ikonik yang melambangkan tema sentralnya. Salah satu adegan simbolik tersebut, seperti kalimat di awal, dikatakan terjadi di kota pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan (Celebes), pada paruh pertama abad ketujuh belas (hlm. 27).

Kenyataan ini sesungguhnya menunjukkan betapa peran penting lautan dan perdagangan dalam sejarah Asia Tenggara. Karenanya, konflik antara kepentingan dan persepsi masyarakat adat dan Eropa sering terjadi. Dalam pandangan Sutherland perbedaan mendasar ini tidak berakar pada ketidakmampuan maritim atau komersial Asia, tetapi lebih mencerminkan sikap orang Eropa yang lebih agresif. 

Charles Tilly (1990) yang dikutip Sutherland berpendapat bahwa negara-negara berkembang di Eropa modern awal didorong oleh tekanan kompetitif “pemaksaan dan modal”, karena akumulasi kekayaan dan kekuasaan membentuk spiral yang saling memperkuat. Pada awalnya penguasaan ini didukung oleh sumber daya kerajaan, kemudian oleh perusahaan perdagangan yang didukung oleh Negara.

Dengan modal tersebut orang Eropa memasuki laut selatan dengan keinginan untuk mendominasi. Meriam dan kontrak eksklusif tidak hanya dianggap sebagai instrumen sah dari kebijakan perdagangan, tetapi merupakan sesuatu yang sangat diperlukan untuk dapat beroperasi agar bisa menguntungkan. Bukan berarti raja-raja di Asia Tenggara dan para kepala suku tidak begitu peduli dengan ekonomi, termasuk potensi perdagangan yang mereka miliki, akan tetapi mereka berusaha untuk memusatkan perdagangan di pelabuhan dalam kekuasaan mereka dengan menawarkan keamanan dan akses ke komoditas dengan imbalan hadiah dan pajak. Sebaliknya, orang Eropa lebih ambisius denga berusaha untuk terus memperluas hegemoni mereka atas jalur laut utama (hlm 27).

Secara geografis, daerah Asia Tenggara memang merupakan sebuah wilayah dengan perairan yang sangat luas dengan sumber-sumber kekayaan alam banyak tumbuh di daratan yang menjadi barang dagangan di dunia. Karena itulah, air menjadi faktor penentu dalam sejarah perkembangan Asia Tenggara, khususnya dalam perdagangan yang dalam fokus tulisan Sutherland ini melihat pada dampak perdagangan yang ditularkan melalui air.

Selama ribuan tahun, perairan Asia merupakan sentral, khususnya dalam dinamika sejarah Asia Tenggara yang dapat ditemukan dalam interaksi antar masyarakat, terutama melalui perdagangan: menyusuri sungai, sepanjang pantai, melintasi lautan dan samudera, khususnya pada 'pulau Asia Tenggara' (Malaysia, Indonesia, Filipina) yang juga ditopang adanya perdagangan di 'daratan' Myanmar atau Burma, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam. Dengan begitu bahwa pemahaman apa pun tentang Asia Tenggara harus dimulai dengan melihat kondisi geografis, khususnya mengenail lokasi, air, dan angina (hlm. 28).

Posisi Asia Tenggara hanya dapat dipahami dengan melihat secara keseluruhan, khususnya bahwa wilayah ini terletak di antara dua kekuatan ekonomi besar Asia yakni India dan Cina. Kedua kekuatan ekonomi ini merupakan pusat-pusat yang luas dan kompleks dalam produksi dan konsumsi. Juga merupakan penghasil barang-barang manufaktur, seperti keramik, tekstil dan peralatan logam yang akan ditukarkan dengan hasil hutan dan lautan Asia Tenggara, termasuk makanan, zat warna, dan obat-obatan. Dengan arus perdagangan sangat ramai ini, memungkinkan pemukiman di pesisir pantai, muara dan pantai untuk memanfaatkan arus barang dengan menawarkan perlindungan dan layanan.

Hal yang juga terpenting dalam perdagangan di Asia Tenggara adalah wilayah ini berada di bawah pengaturan angin monsun, yang menentukan iklim dan pola pelayaran di sepanjang pantai Afrika Timur dari Madagaskar, ke Teluk Persia, dan ke seberang selatan Jepang dan turun ke barat Papua. Angin ini berubah arah, didorong oleh fluktuasi suhu di Siberia, Asia Tengah dan Australia. Umumnya, angin timur laut bertiup melintasi Laut Cina Selatan dari bulan November sampai Januari, sedangkan angin musim barat daya membawa kapal dari India antara Mei dan Oktober. Musim hujan, seperti angin perdagangan yang lebih selatan, memenuhi layar kapal yang membawa komoditas melintasi sistem perdagangan 'Samudra Hindia' yang lebih luas. Arus udara ini mempengaruhi pertukaran ekonomi di daerah yang membentang dari pantai selatan dari Laut Hitam ke Madagaskar, termasuk Turki dan Timur Tengah saat ini, dan menjangkau seluruh anak benua India, Asia Tenggara dan Cina ke Jepang dan Korea (hlm. 29).

Dengan keadaan geografis dan angin musim di Asia Tenggara ini sesungguhnya menjadi pusat dalam ritme perdagangan, karena menjadi jalur lalulintas perdagangan, khususnya dua kekuatan ekonomi ketika itu yakni India dan Cina. Tentu pula  termasuk pula Eropa dan Timur Tengah yang mencium adanya sumber rempah-rempah di wilayah tersebut. Kendati perdagangan darat juga memberi peran penting, namun, air tetap menjadi media transportasi yang lebih efisien, terutama untuk kargo yang lebih besar.

Terbukanya kepulauan di Asia Tenggara telah terjadi sejak sekitar 3000 SM, ketika bagian barat dan tengah nusantara dihuni oleh penutur Austronesia. Orang-orang yang menggunakan gerabah ini, dengan ekonomi pertanian yang bervariasi, bermigrasi dari Taiwan, melalui Filipina dan Kepulauan Indonesia, hingga Madagaskar, Melanesia, dan Pasifik, dengan kelompok-kelompok yang bergerak dan menetap saat mereka pergi. Setiap menemukan populasi yang ada, mereka melakukan penyesuaian teknologi dengan lingkungan local, disertai dengan pengenalan keahlian pembuatan kapal dan navigasi.

Sumber makanan laut juga menjadi hal yang penting dalam pengembangan permukiman awal. Pertukaran komoditas antara zona ekologi, dan eksploitasi sumber daya khusus yang menguntungkan, mendorong transaksi antar kelompok pusat pengumpulan dan tempat produk dikumpulkan.  Wilayah ini berlokasi di Semenanjung Malaya dari milenium pertama SM hingga awal milenium pertama M. Pusat-pusat seperti itu akan bermunculan di lokasi-lokasi strategis, seperti yang dapat mengontrol rute atau simpul transportasi penting (hlm. 33).

Dengan latar belakang ini, tidak mengherankan bahwa kontak maritim memiliki sejarah panjang, lebih dari 2500 tahun. Orang Arab berlayar ke Pantai Malabar di India barat, dan orang Cina ke wilayah utara Vietnam modern yang berdampingan, di era pra-Kristen. Awalnya, komoditas seperti rempah-rempah Maluku mencapai pasar yang jauh, melewati rantai transaksi yang panjang. Penemuan arkeologi cengkeh yang paling awal, dari tanaman asli Maluku, berasal dari toko dapur Mesopotamia yang bertanggal sekitar 1700 SM, dan dokumen sumber penggunaan rempah-rempah oleh orang Cina sejak abad ketiga SM. Termasuk kota-kota pesisir yang berorientasi perdagangan seperti Broach (Barugaza), di barat laut Teluk Cambay, atau Coromandel's Masulipatnam telah muncul pada awal Masehi.

Sutherland mengutip Christie (1995) yang memberikan gambaran yang sangat baik tentang prasejarah maritim Asia Tenggara dan hubungannya dengan perdagangan. Berdasarkan catatan ini bahwa telah munculnya dua pusat utama penumpukan kekayaan dalam beberapa abad terakhir SM, satu terletak di Selat Malaka, yang lainnya di wilayah selatan Laut Jawa, hasil dari 'ledakan aktivitas perdagangan' antara sekitar 500 dan 200 SM. Perkapalan Melayu dan Indonesia mungkin membawa sebagian besar barang di perdagangan Teluk Benggala, sehingga ditempatkan dengan baik untuk memanfaatkan perdagangan Romawi yang berkembang dengan India. Selama abad keempat dan kelima, perdagangan Tiongkok selatan di laut-laut ini meluas, membuat Christie berkomentar bahwa ada kemungkinan bahwa 'peningkatan kekayaan dari perdagangan Tiongkok ini dibayarkan untuk' Indiaisasi 'maritim Asia Tenggara' (hlm. 34).

Asia Tenggara sesungguhnya menyimpan sejarah panjang, khususnya dalam hal perdagangan. Kendati demikian, 'ketidaksetaraan historiografis' antara Eropa dan seluruh dunia, khususnya Asia Tenggara. Dunia Arab, India, dan Cina masing-masing memiliki tradisi sejarah yang kuat, dan masing-masing ikut berperang penting dalam membantu membentuk dunia Asia Tenggara. 'Keterbukaan' Asia Tenggara, yang lahir dari geografi, merupakan ciri khas wilayah ini.

Perdebatan tentang pembentukan negara awal di Asia Tenggara menggarisbawahi adanya interaksi sentral antara ekologi, pemukiman manusia dan perkembangan hierarki. Bahkan John Miksic (Prof. Dr John N. Miksic) telah mengeksplorasi bagaimana zona ekologi, dengan berbagai musim, dapat mengembangkan pola pertukaran yang saling melengkapi. Seperti disebutkan sebelumnya, simbiosis semacam itu dapat mendasari pola perdagangan prasejarah, karena transportasi air jauh lebih hemat energi daripada pergerakan melalui darat, situs pantai, pertemuan atau muara memberikan fokus alami dari pemukiman (hlm. 44).

Perdebatan yang berubah-ubah, dalam konteks sosial bahkan saat ini disibukkan dengan isu-isu seperti 'globalisasi' dan 'identitas', termasuk peran etnis minoritas di kota-kota kosmopolitan. Para ahli terpecah antara yang pro dan kontra soal perdagangan global, fleksibilitas yang berubah-ubah dari era yang kurang terstruktur, khususnya pandangan antara perdagangan bebas versus proteksionisme.

Organisasi trans-nasional, baik politik maupun ekonomi, mungkin terbukti bertentangan dengan kelangsungan negara-bangsa, dan kerentanan ekonomi lokal terhadap penetrasi bisnis asing menjadi perhatian. Akan tetapi sesungguhnya geografi dan perannan air memungkinkan komunitas lokal di Asia Tenggara dapat berinteraksi dengan berbagai peradaban lainnya di seluruh dunia (hlm. 56).

Banyak perdebatan besar dalam historiografi Asia Tenggara yang melibatkan peran geografis dan air, termasuk diskusi tentang dasar ekologi, ekonomi dan budaya negara-negara awal, pola pemukiman dan peran kota, pentingnya transportasi sungai dan laut, teknik hidrolik dan dampak perdagangan. Kendati demikian, pendekatan lokal, komparatif dan regional terhadap sejarah Asia Tenggara pada akhir abad kesembilan belas dan kedua puluh masih didominasi oleh kategorisasi yang berasal dari prioritas Barat.

Makassar, 3 September 2020.

----------

Sumber: Idwar Anwar untuk Tugas MK Sejarah Maritim Indonesia Magister Sejarah UNHAS. HEATHER SUTHERLAND, Geography as destiny? The Role of Water in Southeast Asian history. Dalam Peter Boomgaard (eds). A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian Histories (Leiden: Brill, 2007, hlm. 27-70).

Download Buku Gratis di SINI.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • A World of Water: Rain, Rivers and Seas in Southeast Asian Histories

Terkini

Iklan

Close x